• MANUSIA DAN HARAPAN

    MANUSIA DAN HARAPAN 

    Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang dikaruniai akan akal dan budi, melalui akal dan budi tersebutlah timbul sebuah keinginan atau asa yang kita kenal secara umum dengan harapan. Harapan yang dimiliki seseorang juga datang atas dasar pengalaman yang sebelumnya telah dilalui oleh orang tersebut. Kebutuhan akan sesuatu juga merupakan pemicu timbulnya harapan.
    Dalam dunia psikologi harapan merupakan kata kunci yang sangat amat penting, harapan mengandung berbagai macam rangkaian emosi seperti kesenangan, perasaan kekaguman, dan kegembiraan. Harapan membantu kita untuk membangun diri kita dalam berbagai aspek. Seseorang dikatakan  tidak dapat hidup tanpa harapan.

    APA ITU HARAPAN ?

    Harapan adalah emosi yang terkarakterisasi oleh perasaan positif akan kejadian yang akan datang. Beberapa orang percaya bahwa harapan adalah bagian dari kepribadian seseorang dan tidak jarang pula yang mengatakan bahwa harapan timbul dari pengaruh lingkungan eksternal atau pun pengalaman lalu dari seseorang tersebut.

    Secara psikologis, harapan dapat mempengaruhi baik itu kesehatan mental maupun kesehatan fisik seseorang. Orang yang hidup dengan kecenderungan memiliki harapan biasanya menghadapi permasalahan mental yang lebih sedikit daripada orang  yang hidup tanpa harapan. Beberapa symptom atau gejala yang timbul beberapa diantaranya adalah depresi, kegelisahan, atau bahkan serangan panik ( panic attack ). Oleh karena itu diyakini bahwa manusia tidak bisa hidup bahagia tanpa harapan.

    APA SEBAB MANUSIA MEMPUNYAI HARAPAN ?

    1. Dorongan Kodrat

    Kodrat adalah sifat, keadaan atau pembawaan alamiah yang sudah terwujud dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan, misalnya menangis, tertawa, sedih, dan bahagia.

    Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat, dan hidup bersama dengan manusia lain. Dengan kodrat inilah manusia memiliki harapan.

    2. Dorongan Kebutuhan Hidup

    Manusia memiliki kebutuhan hidup, umumnya adalah kebutuhan jasmani dan rohani. Untuk memenuhi kebutuhan itu manusia harus bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan karena kemampuan manusia sangat terbatas baik kemampuan fisik maupun kemampuan berpikirnya.

    Menurut Abraham Maslow, sesuai dengan kodratnya, harapan atau kebutuhan manusia itu adalah :

    1.) Kelangsungan hidup (survival).

    Untuk melangsungkan hidupnya manusia membutuhkan sandang, pangan dan papan (tempat tinggal). Kebutuhan kelangsungan hidup ini terlihat sejak bayi lahir. Setiap bayi begitu lahir di bumi menangis, ia telah mengharapkan diberi makan/minum. Kebutuhan akan makan/minum ini terus berkembang sesuai dengan perkembangan hidup manusia

    2.) Keamanan (safety).

    Setiap orang membutuhkan keamanan. Sejak seorang anak lahir ia telah membutuhkan keamanan. Begitu lahir, dengan suara tangis, itu pertanda minta perlindungan. Setelah agak besar, setiap anak menangis dia akan diam setelah dipeluk oleh ibunya. Setelah bertambah besar ia ingin dilindungi. Rasa aman tidak harus diwujudkan dengan perlindungan yang nampak, secara moral pun orang lain dapat memberi rasa aman. Dalam hal ini agama sering merupakan cara memperoleh kemanan moril bagi pemiliknya. Walaupun secara fisik keadaannya dalam bahaya, keyakinan bahwa Tuhan memberikan perlindungan berarti sudah memberikan keamanan yang diharapkan.

    3.) Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai (be loving and loved)

    Tiap orang mempunyai hak dan kewajiban. Dengan pertumbuhan manusia maka tumbuh pula kesadaran akan hak dan kewajiban. Karena itu tidak jarang anak-anak remaja mengatakan kepada ayah atau ibu. “Ibu ini kok menganggap Reny masih kecil saja, semua diatur!” Itu suatu pertanda bahwa anak itu telah tambah kesadaran akan hak dan kewajibannya.Bila seorang telah menginjak dewasa, maka ia merasa sudah dewasa, sehingga sudah saatnya mempunyai harapan untuk dicintai dan mencintai.Sebab umumnya remaja mulai menentang sifat-sifat orang tua yang dianggap tidak sesuai dengan alamnya

    4.) Diakui lingkungan (status)

    Setiap manusia membutuhkan status. Siapa, untuk apa, mengapa manusia hidup, Status itu penting, karena dengan status orang tahu siapa dia Harga diri orang antara lain melekat pada status orang itu. Misalnya ada anak haram, biarpun anak haram itu tingkah lakunya baik dan tidak berdosa sebab yang berdosa orang tuanya, namun masyarakat tetap memberikan cap yang negatif.

    5.) Perwujudan cita-cita (self actualization)

    Selanjutnya manusia berharap diakui keberadaannya sesuai dengan keahliannya atau kepangakatannya atau profesinya. Pada saar itu manusia mengembangkan bakat atau kepandaiannya agar ia diterima atau diakui kehebatannya.

    DOA

    Pengertian doa atau prārthanā (dalam bahasa Sansekerta) berasal dari dua kata ‘prā‘ dan ‘artha‘ yang artinya memohon dengan sungguh-sungguh. Dengan kata lain, berdoa artinya meminta sesuatu hal kepada Tuhan YME dengan kerinduan yang intensif.

    Doa mencakup rasa hormat, cinta, permohonan dan iman/keyakinan. Melalui sebuah doa, seorang abdi/hamba Tuhan mengungkapkan ketidakberdayaannya dan menyerahkan sikap pelaksanaan dari suatu pekerjaan kepada Tuhan YME. Menyerahkan sikap pelaksana kepada Tuhan YME berarti kita mengakui bahwa Tuhan membantu kita dan Ia yang menyelesaikan pekerjaan itu.

    KEPERCAYAAN

    Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran.

    Ada jenis pengetahuan yang dimiliki seseorang, bukan karena hasil penyelidikan sendiri, melainkan karena diterima orang lain. Kebenaran pengetahuan yang didasarkan atas orang lain itu disebabkan karena orang itu dipercaya. Dalam agama terdapat kebenaran-kebenaran yang dianggap diwahyukan artinya diberikan Tuhan, baik langsung atau tidak langsung kepada manusia.Dasar kepercayaan adalah kebenaran. Sumber kebenaran adalah manusia. Kepercayaan itu dapat dibedakan atas :

    1. Kepercayaan Pada Diri Sendiri
    Kepercayaan kepada diri sendiri itu ditanamkan setiap pribadi manusia. Percaya kepada diri sendiri pada hakekatnya adalah kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
       
    2. Kepercayaan Pada Orang Lain 
    Kepercayaan kepada orang lain itu sudah tentu percaya kepada terhadap kata hatinya, atau terhadap kebenarannya. Karena ada ucapan yang berbunyi ” orang dipercaya karena ucapannya”.

    3. Kepercayaan Kepada Pemerintah
    Pandangan demokratis mengatakan bahwa kedaulatan adalah dari rakyat, dan milik rakyat. Rakyat adalah negara dan rakyat itu menjelma pada negara. Seseorang mempunyai arti hanya dalam masyarakat, dan negara. Hanya negara sebagai keutuhan (totalitas) yang ada, sehingga kedaulatan mutlak pada negara. Satu-satunya yang mempunyai hak adalah negara. Manusia perseorangan tidak mempunyai hak, tetapi hanya kewajiban.Karena itu jelaslah bagi kita, baik teori maupun pandangan teokratis atau demokratis negara pemerintah itu benar, karena Tuhan adalah sumber kebenaran. Sehingga wajar jika manusia sebagai warga negara percaya kepada negara dan pemerintah.

    4. Kepercayaan Kepada Tuhan
    Kepercayaan kepada Tuhan yang maha kuasa itu amat penting, karena keberadaan manusia itu bukan dengan sendirinya, tetapi diciptakan oleh Tuhan. Kepercayaan itu amat penting karena merupakan tali kuat yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Kepercayaan berarti keyakinan dan pengakuan akan kebenaran adanya Tuhan. Oleh karena itu, jika manusia ingin memohon pertolongan kepadaNya, maka manusia harus percaya kepada Tuhan.
                                  

    KESIMPULAN 

    Pada dasarnya semua manusia memiliki harapan, seperti yang dikatakan bahwa manusia tanpa harapan itu sama saja seperti mati. Kita harus berharap karena dari harapan itulah dapat timbul gagasan-gagasan dan motivasi positif yang dapat digunakan untuk membangun diri dan lingkungan kita kelak.

    Memiliki harapan sesungguhnya boleh saja asal kita sebagai mahkluk yang bijaksana menyeimbanginya dengan usaha. Sebab kedua hal itu saling bersinergi untuk membantu kita mencapai apa yang kita inginkan. Selain itu, manusia sebagai mahkluk beriman juga tetap harus menaruh kepercayaan kepada yang Maha Kuasa karena Ialah pemberi jalan bagi kita semua.



     

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.